Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 12

Misteri Iman



Sesorang yang pernah saya kenal dan temui dikabarkan menderita kerasukan. Banyak hamba Tuhan datang untuk mendoakannya, tapi setan yang berada dalam sang penderita ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil berkata pada tiap hamba Tuhan yang berusaha mengusirnya itu, "Kamu tidak punya iman".

Ini menjadi bahan perenungan dan pemikiran saya, karena Tuhan juga pernah dua kali setau saya mengatakan hal itu. Pertama saat Ia mengatakan andaikan kita punya sekecil apapun kita bisa melakukan hal-hal mustahil seperti memindahkan gunung. Kedua saat Ia mengatakan bahwa bila ia kembali ke bumi, adakakah Ia menemukan iman dimuka bumi ini.

Iman bukanlah percaya, percaya memang berhubungan dengan iman, tapi bukan identitas iman itu sendiri. Iman dan percaya adalah hal yang berbeda...

Iman bagi saya masih sebuah misteri, yang jelas berhubungan dengan hal-hal mustahil, mukjizat dan supranatural.

Anda bisa berargumen tentang statement saya diatas, tapi saya tidak peduli apapun logika dan apoleget anda. Datang dan tunjukan pada saya kalau engkau punya iman yang kecil itu, show me you can move that mountain, or do something imposible or miracle (not include magic tricky show).

Iman bukan berbicara tentang kadar seperti yang selama ini kita tahu. Tentang ada iman yang kecil dan ada iman yang besar. Tidak ada hal semacam itu, yang ada hanyalah apakah anda punya iman atau tidak?

Ya atau tidak... Hitam atau putih.... Punya iman atau tidak... tidak ada yang diantaranya...


Mungkin hal ini dapat membantu anda menuju kesana;

Ibrani 11: 1 mengatakan : "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. "

Hal yang menarik adalah kata Pistis sendiri sebelum digunakan dalam tulisan Perjanjian Baru berarti "barang bukti". Kata yang digunakan dalam kasus kejahatan dan pengadilan, hal ini membantu kita mengerti Ibrani 11:1 dengan lebih jelas.

Menurut Strong, Iman atau Pistis berarti kebenaran yang mutlak/penuh milik Tuhan. Sementara menurut Thayer, Pistis artinya Conviction of the truth atau pendirian akan sang kebenaran.

Malina dalam bukunya "The New Testament World"; dan Neyrey dalam bukunya "Portraits of Paul: An Archaeology of Ancient Personality" sepakat mengatakan bahwa Pistis berarti "Kesadaran Konstan". Yaitu kesadaran akan hubungan kita dengan Tuhan yang berlangsung secara konstan tak terputus. Dan juga kesadaran yang berlangsung dengan konstan bahwa kita adalah bagian dan satu tubuh dengan Kristus.

Jadi saat kalimat "Kau tidak punya iman" ditujukan pada kita, itu berarti:

1. Kau tidak punya "barang bukti", dalam hidupmu sebagai sebuah tanda betapa kau mengasihi Yesus.

2. Kau tidak punya "Kebenaran Penuhnya Tuhan".

3. Kau tidak punya "Kesadaran yang terus terhubung dengan Tuhan tanpa terputus".

4. Kau tidak punya "Kesadaran konstan bahwa kau adalah satu tubuh dengan Kristus".



(update from my handphone)


Share

Rabu, Mei 5

Arti Dari Mencari Kerajaan Sorga

(luki.co.nr) But seek ye first the kingdom of God, and his righteousness; and all these things shall be added unto you. - Mat 6:33.

Apasih sebenarnya arti dari mencari kerajaan sorga itu? Dan bagaimana cara mencarinya?

Seek atau mencari, dalam bahasa aslinya disebut Zeteo. Sedangkan Zeteo mempunya tiga arti :

1. Specifically to Worship God

2. Plot to against Life

3. Desire

Jadi kalau arti-arti tersebut digabungkan menjadi :
"Desire, specifically to Worship God, and plot to against (world) Life."
Wuih ekstrim bener artinya...
Sebuah hasrat mengkhususkan hidup untuk menyembah Tuhan, dan merencanakan hidup untuk melawan kehidupan duniawi.

Sebuah hidup Imam dan Pejuang...

Apakah kita ada dalam hidup seperti itu?


Share

Jumat, April 16

Saat Berpikir Positif Menjadi Salah

(luki.co.nr) Masalah mematikan kemampuan dan kemauan saya untuk menulis. Saya kagum ada sebagian kecil orang saat mereka bermasalah justru pelariannya adalah menulis, dan tulisan mereka labih tajam saat mereka gundah. Selain masalah, waktu yang terbatas tersita oleh “tulisan pesanan” juga membuat saya sungguh malas menghadapi keyboard dan menyalurkan pikiran saya pada tuts-tuts yang ada didepan saya.

Kenapa saya enggan menulis dalam blog, karena saya berkomitmen akan menuliskan sesuatu yang inspiratif, dan membangun bagi pembaca blog. Tapi masalahnya pikiran saya banyak bergulat dengan kenyataan hidup yang pahit, pesimisme, dan fakta-fakta yang membuat kita discourage. What in my thought is 90% darkside of life.

Seorang rekan begitu terinspirasi untuk menjadi dampak yang positif bagi dunia, dengan membagikan isi-isi pikiran yang positif didalam nilai-nilai kerajaan surga. Lalu ia membuat sebuah blog yang diberi nama, brightside. Dengan komitmen ia akan menjadi terang ditengah kegelapan dunia ini lewat tulisan di blognya. Namun ternyata hal itu hanya bertahan beberapa bulan, setelah itu tidak ada lagi tulisan yang dihasilkannya. Sepertinya ia telah berhenti berpikir “brightside”.

Kenapa kita berhenti berpikir positif?
Karena ternyata berpikir positif itu menyakitkan, mengingkari kenyataan, dan seperti merasa membohongi diri terus menerus. Berpikir negatif dan pesimis lebih menyenangkan dan nyaman, karena pikiran negatif ini tidak pernah mengecewakan kita.

Well, berpikir positif itu seperti minum campuran jus dan sayur yang tidak enak dan memualkan, sementara berpikiran negatif itu seperti menghisap ganja. Walau kita tahu sangat baik meminum jus sayur itu, namun ada saat kita suka kembali ke masa kita sendirian dan menghisap ganja.

Semua objek memiliki kelebihan dan kekurangan, saat disinari ia memiliki sisi terang dan sisi gelap. Semua hal memiliki sisi luar yang indah, dan sisi dalam yang buruk. Bahkan seorang artis yang sangan cantik juga memiliki sisi yang menjijikan kalau kita membelah sisi dalam tubuhnya...

Ya, berpikir positif itu sulit, dan semua orang menghindari bahkan tidak bisa melakukan hal yang sulit, yang tidak bisa dilakukannnya. Karena banyak orang berpikiran positif kebabalasan dan hanya menjebaknya dalam situasi serba sulit yang tidak bisa mundur. Paulus mengingatkan kita untuk tidak berpikir terlampau tinggi, terlampau positif dan muluk :
Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (Roma 12:3)
Mind set, atau penyetelan pikiran seperti halnya kerumitan menyetel sound sistem. Harus disetel dengan tepat, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah, harus pas benar.

Jika ia terlalu tinggi, harus direndahkan, diberi pukulan dan cobaan. Jika ia terlalu rendah harus diberi motivasi, inspirasi, janji dan panggilan Kristus.

Agar hidup kita dapat optimal, kita tidak melaju terlalu kencang, tapi juga tidak berjalan dengan lambat. Semuanya disesuaikan dengan anugerah yang Tuhan berikan untuk kita.

Tapi semua itu fokus dan tujuan utamanya jelas, bukan supaya kita selamat dijalan, atau selamat dalam hidup ini. Melainkan semuanya diset optimal, agar kita memenangkan pertandingan iman dihidup ini.

Share

Jumat, April 9

We're numbers only

(luki.co.nr) Duduk diruang tunggu dokter di rumah sakit, sambil mendengar suara komputer yang bergema mengumandangkan panggilan terhadap nomor-nomor antrian. Layar LCD didekat saya tidak menampilkan hiburan televisi, melainkan nomor-nomor antrian yang lain. Saat saya mendaftar, saya diberi tahu untuk mengambil nomor antrian untuk dilayani. Saat nomor saya tertera, saya mendatangi meja pendaftaran dan mereka menanyakan nomor pasien saya. Setelah memberikan nomor pasien yang tertera pada kartu pasien saya, mereka memberikan saya nomor antrian yang baru, yang berbeda dengan nomor yang saya ambil sebelumnya. Dalam secarik kertas yang mereka berikan, terdapat nomor ruang dimana saya harus mengantri.

Maka saya segera menelusuri pintu-pintu ruangan yang ada, yang terdiri dari nomor-nomor, kemudian berhenti dan duduk menanti didepan sebuah pintu yang sesuai dengan nomor saya. Setelah lama menunggu, dan mendengar nomor-nomor lain dipanggil, akhirnya nomor saya dipanggil juga. Setelah masuk keruangan, dokter memeriksa medical record saya yang terdiri dari angka-angka. Kemudian memeriksa saya dengan stetoskopnya, mengajukan beberapa pertanyaan, setelah itu kembali ke mejanya dan menuliskan angka-angka yang baru.

Angka-angka tersebut diproses menjadi dua bagian yaitu untuk kefarmasi, dan ke laborotarium. Saya mengambil nomor antrian lagi di laboratorium, untuk mengambil hasil lab saya beberapa hari lalu, menunggu lagi, setelah itu prosesnya saya masih harus mengambil nomor antrian untuk mengabil obat difarmasi. Dst..dst...dstnya...

Anda muak membacanya? Semuanya tentang nomor saja?
Saya apalagi, lebih mual dalam menuliskannya.

Dihidup ini, kita tidak lebih dari angka-angka saja, benar juga yang dikatakan film Matrix.

Tidak ada pribadi, tidak sentuhan kemanusiaan, tidak ada feeling connection, semuanya kita hanyalah sebuah nomor bagi yang lain.

Untungnya Tuhan tidak melihat kita seperti itu. Ia berkata :
"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." Yer 1:15
Tuhan mengenal kita secara pribadi sejak kita masih dalam kandungan, Dia bahkan berkata kita begitu penting baginya, bagaikan biji matanya, dia bahkan datang kedunia dan mengorbankan jiwaNya, demi kasihNya dia pada pribadi kita yang unik.

Thanks God... we're not numbers in front of Him....

Dia menyentuh dan mengenal kita secara pribadi...
Dia mengenal kita lebih dari siapapun...

Share

Senin, April 5

Anugerah Keterbatasan

(luki.co.nr) I have no idea...

Begitu banyak topik yang ingin aku share, but thats all gone now...

Tepatnya saat aku membeli Netbook terbaru dengan Intel Pinetrail dan baterai yang bisa bertahan hingga 8 jam. Netbook dengan spesifikasi terbaik dikelasnya, bahkan untuk kelas diatasnya.

Ada begitu banyak yang ingin aku bagikan, tapi semuanya itu terbuang sia-sia, terlupakan, tidak sempat dituliskan dan tergerus oleh kesibukan baru dan pikiran baru.

Aku bisa membagikannya dengan Pentium 4 dirumahku, tapi masuk kedalam kamar kerja tersebut serasa membuyarkannya. Selalu ada hal lain yang aku kerjakan, terutama yang berhubungan dengan aktifitas yang berhubungan dengan komputasi besar, seperti mendesign proyek-proyek non komersil, atau game umpamanya... (hahahahaha...)

Atau laptop Core2duo kesayanganku, tapi kebanyakan kugunakan laptop ini untuk official bisnis. Dengan bobot yang cukup berat, seringkali malah menjadi beban dalam mobilitas. Lagipula aku takut terjadi sesuatu dengan laptop tersebut, itu bukan milikku, itu fasilitas kantor. Jadi lebih baik dia tetap berada dimana tempatnya seharusnya berada.

Jadi aku minta pada Tuhan sebuah komputer mini yang bisa kubawa kemana-mana dan dapat menyalurkan pikaranku kapanpun aku mau. Dan sekarang secara ajaib Netbook Intel Pinetrail itu sudah ditanganku.

Aku menghabiskan waktu lama berputar-putar dengan Windows 7, yang sampai sekarang-pun masih terasa sangat aneh. Namun tidak satupun share yang sempat aku tuliskan.

Setiap kali berusaha, memaksakan diri duduk depan netbook untuk menulis sesuatu, yang terjadi hanyalah kebuntuan total terdiam didepan alat terbaru dan tercanggih yang Tuhan berikan. Semua topik yang dahulu ingin aku tuliskan menguap entah kemana.

Kebuntuan itu justru memberikan aku pelajaran...

Manusia justru dalam kemampuan terbaiknya, saat mereka diberikan batasan

Saya penuh dengan ide dan prestasi terbaik saya justru saat berada ditengah segala keterbatasan yang ada. Tapi saya menjadi lumpuh dan mandul saat berada dalam situasi yang baik, diberkati dan memiliki fasilitas.

Paulus menuliskan ini :
..aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2Kor 12:7-10)

Jadi jangan minta berkat, fasilitas atau alat...
karena semua hanya kelihatannya memecahkan masalah kita, tapi hanya sementara. Konsekuensinya justru hancurnya semua potensi dan kemampuan kita.

Sebaliknya bersyukurlah atas keterbatasan kita, karena dalam keterbatasan itu kita dalam kapasitas terbesar kita. Dan sebuah kepuasan terbesar dalam hidup justru mengerjakan hal-hal dalam keadaan terbatas.

Capailah hal-hal yang besar dengan yang anda miliki saat ini, jangan mengeluh akan keadaan alat dan kondisi kita.

Kekuatan kita berada justru berada saat kita terdesak dan lemah...


Share

Kamis, April 1

Dari Getsemani ke Golgota

(luki.co.nr) Sesungguhnya yang terpenting dalam paskah adalah perjalanan dalam paskah itu sendiri, yaitu dari Via Dolorosa, bukit Golgotta sampai pada kebangkitan. Makna dari perjalanan itu adalah pergumulan seorang Anak Manusia, pergumulanNya saat menghadapi cobaan. Dan bagaimana Anak Manusia itu menang atas pencobaan.

Sekarang, apakah pencobaan itu?

Pencobaan sebenarnya adalah jembatan Tuhan, untuk kita sampai pada keinginan dan rencana Tuhan. Kita mengerti bahwa pergumulan adalah bagian dari manusia, semua manusia mengalaminya, terlebih lagi orang yang percaya pada Tuhan, karena Iman adalah proses dari pergumulan.

Jadi iman tanpa pergumulan itu tidak mungkin.
Pergumulan itu sendiri juga menjadi kaca pembesar bagi manusia untuk melihat tangan Tuhan. Kita seringkali tidak bisa melihat Tuhan, banyak orang mengaku melihat Tuhan, pertanyaan saya bagaimana cara mereka melihat Tuhan? Sesungguhnya semua anak Tuhan dapat melihat Tuhan, yaitu ketika dalam pergumulan mereka dapat melihat Tuhan. Tuhan sebagai penolong, Tuhan menjadi pelindung, dan Tuhan menjadi pemelihara. Kacamata rohaninya menjadi besar dan jelas saat dalam pergumulan.

Dalam keadaan sukacita, ucapan syukur, dan kebahagiaan manusia umumnya tidak bisa melihat Tuhan. Tuhan bagi mereka yang dalam keadaan postif dan senang, sebenarnya lebih kepada slogan.

Pergumulan Kristus dari taman Getsemani sampai pada bukit Golgota, justru disitulah tangan Tuhan berkerja secara nyata. Sehingga seperti yang saya katakan sebelumnya, pergumulan adalah jembatan yang membawa kita pada jalan dan rencana Tuhan untuk mencapai keindahanNya.

(Diambil dan disarikan dari pesan Abuna Jusufroni untuk Majalah Suka)



Share

Rabu, Maret 31

Terjun Keselokan?

(luki.co.nr) Saya sedang memarkir kendaraan saya didepan kantor, waktu saya mulai mendengar bunyi-bunyi aneh. Bunyi itu seperti suara anjing yang menangis dan suara kecipak-kecipak air. Segere saya menelusuri rasa penasaran saya dengan mencari datangnya suara itu. Tidak jauh dari situ ternyata ada seekor anjing sejenis Terrier tercebur kedalam selokan, kasihan sekali dia, tubuhnya hampir semua tertutup lumpur hitam dari selokan tersebut.

Kompleks perumahan dekat kantor saya itu membangun selokannya cukup baik, dengan tinggi sekitar 1m dan kedalaman air sekitar 30 cm, sehingga anjing Terrier yang bertubuh kecil tentu saja tidak bisa naik keluar dari selokan dengan ketinggian seperti itu. Saat anjing cokla itu melihat saya, ia bukannya senang tapi seperti bertambah takut. Saya melihat ia memiliki kalung dilehernya dan coba meraihnya untuk menolongnya, namun segera ia menghindar dan menjauh, masuk dalam gorong-gorong selokan tersebut.

Segera saya kembali kekantor untuk mengambil besi pengait, yang ujungnya berbentuk lengkungan dan biasa digunakan untuk meraih rolling door dikantor kami, denan maksud saya akan menggunakannya untuk meraih kalung si anjing kecil dan mengangkatnya keluar dari selokan itu.

Tidak lama saya menemukannya lagi, namun tetap saja ia terus menjauhi dan menghindari saya, masuk kedalam gorong-gorong yang lain. Akhirnya saya kehilangan dia, ia masuk dalam satu gorong-gorong dan saya tidak bisa menemukannya di kedua sisi gorong-gorong yang panjang itu. Apalagi saya terus dipelototi sebagai orang mencurigakan oleh para penghuni rumah, saat saya terus memeriksa dua sisi gorong-gorong tersebut. Setelah 20 menit menunggunya keluar, saya menyerah dan kembali kekantor.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada anjing itu, semoga saja dia selamat. Dan sepanjang hari saya begitu sedih karena tidak berhasil menyelamatkan si Terrier coklat yang malang.

Kita manusia seperti si Terrier coklat itu, selalu berpikir bisa dengan kekuatan sendiri dengan terus lari mencari jalan lain, saat Tuhan mengulurkan tongkatNya untuk menyelamatkan kita.

Sayang saya tidak seberani Yesus turun kedunia ini, seharusnya saya terjun kedalam selokan itu untuk menyelamatkannya, but hey, I got a job to do, apa kata orang kantor melihat saya penuh dengan lumpur selokan?!


Share

Kamis, Maret 25

Selamat Ulang Hari

(luki.co.nr) Birthday adalah selalu sebuah perayaan yang menyenangkan bagi banyak orang. Hari istimewa yang dirayakan dengan pesta kecil-kecilan antara teman dekat. Bagi seorang anak itu adalah hari yang sangat menggembirakan karena ia akan dapat banyak hadiah, tapi bagi seorang dewasa itu adalah hari dimana ia bisa bangkrut untuk pengeluaran traktir-traktiran. :D

Saya sering merayakan ulang tahun orang lain dengan memberi mereka surprise, membuatnya kesal karena peristiwa yang kita rancang, kemudian kita mematikan lampu dan kita hadir masuk dengan kue ulang tahun dengan lilin diatasnya, sambil menyanyikan "Happy Birthday To You" dengan teman-teman lain yang tidak diduganya untuk datang. Saya menikmati keterkejutan dan senangnya mereka dihari itu.

Tapi saat ulang-tahun saya sendiri tiba, saya sudah sounding dari jauh hari kalau saya tidak merayakannya, untuk itulah saat melewati hari itu terasa sepi sekali. Hanya beberapa orang dekat yang memberi selamat seadanya. Ada sedikit rasa kecewa (sedikit sekali), but thats people, dont expect they do the same good thing to you...

Pastor saya bilang, dihari itu artinya saya semakin dekat dengan Tuhan, karena umur kita yang bertambah. Jadi dihari itu jangalah kita menyanyikan "Happy Birthday", tetapi saat kue ulang tahun datang dengan lilin diatasnya, sebaliknya kita harus menyanyi sebuah lagu rohani lama yang sedih, "Makin dekat Tuhan..."

Apakah merayakan ulang tahun alkitabiah? YA, karena tertulis begini :
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Mazmur 90:12)
Tapi merayakannya dari cara yang berbeda, yaitu dengan perenungan, dengan berhitung akan hari-hari kita. Dan tujuan dari peringatan itu, agar kita mendapat hati yang bijaksana. Bukan pikiran, tapi hati, yang bijaksana.

Pengetahuan mudah didapatkan dan dibentuk dalam pikiran kita. Tapi hati, sangat sulit dibentuk dan dikendalikan. Hati yang teguh, mental yang baja, ramah, damai, penuh kasih, pengendalian diri, dstnya. Dan kondisi Hati yang demikian cuma bisa dicapai melalui buah-buah Roh (Galatia 5:22-23).

Jadi sekali lagi, Selamat Ulang Hari untuk semua, itu perayaan yang lebih penting dari Ulang Tahun. Karena kita diperintah untuk menghitung hari, bukan menghitung dan merayakan Ulang Tahun. Mari menghadapi cermin dan bersyukurlah akan hari, dan berkat-berkat kebaikan Tuhan yang disediakanNya bagi kita hari ini.

Share

Jumat, Maret 19

Rocker Juga Manusia

(luki.co.nr) Apa yang terjadi pada pastor Benny Hinn tidak begitu mengejutkan saya, karena ada beberapa informasi yang saya dapatkan dari teman-teman yang tidak begitu enak didengar, sehingga proses perceraiannya saat ini sudah diramalkan.

Saya banyak mengetahui rahasia kelam dari hamba-hamba Tuhan besar, didalam dan diluar negeri. Banyak teman saya yang hidup didalam lingkaran pertama dari para hamba Tuhan ini, dan mereka sering membagikan rahasia yang disimpannya. Dan anda tidak akan bisa mengoreknya dari saya biarpun anda mengancam akan membunuh saya. :D

Hal itu memberikan pelajaran pada saya, “Rocker juga manusia”. Mereka mengalami kelemahan yang kita alami, mereka terserang penyakit yang sama, dan juga sebagian besar gagal memerangi penyakitnya sendiri, penyakit yang sama yang disembuhkannya pada orang lain.

Siapa dua tokoh terbesar dalam perjanjian lama? Bagi saya adalah Musa sang pendiri agama Yahudi, dan Daud sang raja Israel terbesar. Yang terjadi pada mereka adalah kecacatan moral yang parah, yang dituliskan dengan jelas tanpa malu dan sungkan dalam catatan-catatan yang dianggap suci, dan historikal resmi.

Maksud dari catatan itu bukan sebagai pembenaran dari cacat yang dilakukan para tokoh di Alkitab juga sama dengan yang kita lakukan, melainkan sebagai sebuah pembelajaran. Tidak ada satupun yang bebas dari dosa, tidak ada satupun yang benar didunia ini. Semua manusia telah jatuh didalam dosa sehingga telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Tidak ada satupun manusia yang pantas masuk dalam kerajaan Tuhan.

Hal itu menunjukan agar kita tidak menyandarkan harapan, atau memberikan standar kerohanian seperti mereka. Tapi seharusnya lebih lagi. Yesus berkata, kalau kehidupan kerohanian kita itu harus lebih benar dan lebih suci dari pada tokoh-tokoh rohani kita sekarang.

Bayangkan.... betapa sucinya kita harus hidup...?!

Dan betapa kita harus murni bergantung pada Tuhan...
benar-benar hanya pada Tuhan, dan berhenti berharap pada manusia...

Mari perbaharui hubungan kita dengan Tuhan...
pandang wajah Nya, berserah dan bergantung full total hanya padaNya.


Share

Minggu, Maret 14

Not Feel Guilty

(luki.co.nr) Saya membaca sebuah tag yang sangat mengena dari sebuah buku, yaitu "God want you to be like Jesus. HE is fearless and not feeling guilty about anything."

Perenungan saya akan kalimat ini langsung saya praktekan dalam sebuah hubungan saya yang rusak. Saya marah sekali akan sesuatu hal bodoh yang dilakukan oleh seseorang. Ucapan marah dalam nada kasar saya meledak bagai air bah yang tak dapat dibendungnya, karena semua yang saya katakan itu benar, ia tidak bisa menyangkal atau menyelanya satupun.

Saya benar, dan ia salah...
Ada sebuah kepuasan menyelusup hati saya karena status saya benar itu... Namun kepuasan itu justru membuat saya bertambah gelisah. Hubungan kami pun menjadi buruk, ia diam seribu bahasa, tidak berani menatap wajah saya. Itu terjadi seharian, dan tidak ada yang lebih buruk dari situasi canggung seperti itu.

Lalu sayapun, mempraktekkan apa yang dikatakan kalimat diatas, saya coba merenung, bahwa sebagian besar kesalahan yang dia lakukan kemungkinan saya memiliki kontribusi besar dalam hal itu. Maka saya mendekatinya, membujuknya, dan mengatakan maaf, bahwa sebenarnya sayalah yang harus disalahkan dalam peristiwa itu (walaupun secara ego dan fakta jelas tidak).

Dan anda tahu apa yang terjadi, semuanya totally fine.. finished ... terselesaikan. Dan hubungan kami pulih. Kebanyakan kalau saya berusaha melakukan pemberesan dalam sebuah hubungan,setelah komunikasi yang berjalan lama, masih ada ganjalan-ganjalan yang kami simpan, walaupun pada dasarnya seharusnya sudah terselesaikan. aun kali ini dalam waktu yang singkat, semua totally finished with smile....

Hanya karena saya mempraktekan, people good when they not feel guilty....

Lalu apa kita terus melakukan kesalahan dengan menghilangan rasa bersalah kita?

Tidak juga, selama hidup didalam kita belajar, setiap kesalahan ada ganjaran.
Tapi maksudnya untuk kita belajar tidak mengulangi kesalahan itu, dan lepas dari rasa bersalah.

Apakah anda sudah lepas dari rasa bersalah?

Datanglah pada Yesus...
Ia sudah mati menebus kesalahan saudara, untuk menghilangkan rasa bersalah saudara...
Dia disalib, agar Dia yang dipersalahkan, semua kesalahan ditumpahkan padaNya, agar kita bebas, dan belajar dari kesalahan kita...

Share

Sabtu, Maret 6

Membangun Iman Yang Kuat

Kemarin saya bertemu dengan seseorang yang saya kagumi dan hormati. Kepribadiannya yang tenang, tegas, strict, membuat ia dipercaya memegang banyak jabatan penting, dan orang-orang disekitarnya memberikan kontribusi besar bagi keberhasilannya sebagai leader.

Yang saya heran, ia tidak punya kemampuan apa-apa, selain berbicara tegas (agak galak), namun tenang dan berwibawa. Walaupun begitu, hanya dengan modal itu, ia memiliki pencapaian-pencapaian prestasi yang mengaggumkan. Yang saya sendiri bingung bagaimana bisa mendapatkan itu semua, apakah faktor keberuntungan?

Kami bertemu dalam sebuah urusan resmi. Namun perbincangan yang formal itu tidak sadar melenceng sedikit, saat ia menegur saya tidak punya "mental".

Walaupun saya sedikit terkejut dan tersinggung saat ia mengatakan itu, namun pikiran saya menyetujui apa yang dikatakannya benar. Saat itu kami berbicara dalam konteks, kelengkapan skill saya, hampir tidak ada yang kurang, dengan pencapaian dan terobosan yang juga baik, hampir tidak ada yang tidak bisa saya lakukan dalam lingkup dunia yang sedang kami bicarakan.

Namun saya terbentur selalu pada sebuah tembok yang menurutnya membatasi semua kemampuan saya menjadi minimalis, dan tembok itu disebut "Mental".

Saya teringat pada kita Yoshua pasal pertama yang berulang-ulang betapa Yoshua harus menguatkan dan meneguhkan hatinya, bila ia ingin Tuhan menyertainya. Saat ia berhadapan dengan para tokoh masyarakat dan pada tua-tua, mereka mengatakan hal yang sama, mereka akan bersumpah setia dibawah kepemimpinannya, asalkan ia menguatkan dan meneguhkan hatinya.

Dalam bahasa aslinya menguatkan dan meguhkan hati dikatakan Khazak dan Amat. Yang artinya adalah berani, tegar, keras, dan tegas.

Banyak diantara kita mengira imannya cukup kuat, namun saat dihadapkan pada orang lain, mereka berubah menjadi karakter yang lemah. Iman yang kuat dan mengalahkan gunung seharusnya memiliki mental yang mampu mengalahkan gunung juga.

Tidak heran Kristus berkata, bahwa kita tidak punya iman. Seandainya kita punya, biarpun sekecil biji sesawi saja... maka kita mampu memerintahkan gunung untuk berpindah. Dan Kristus benar, kita memang belum punya mental untuk memindahkan gunung...

Mari belajar mental kuat, keras, dan teguh seperti gunung...
Maka kitapun mampu mengalahkan gunung....

Iman yang mampu memindahkan gunung,
dimulai dari mental memindahkan gunung...

Share

Selasa, Maret 2

Dihancurkan

Anda pernah merasa dipermalukan dan sangat terpukul?

Saya pernah... dan baru saja mengalaminya...

Bagaimana perasaan saya? Malu, hancur, dan terpukul kalah didepan senyum puas orang-orang yang memang tidak menyukai saya dengan ide-ide kebebasan dan pembaharuan. Mereka yang terkungkung dalam pikiran-pikiran kolot, tentang bertahan hidup dengan menjilat siapa yang besar, dan hanya punya prinsip "as long as i live and happy, everything is acceptable".

Biasanya saat dipermalukan dan tertolak, pikiran kita tidak menjadi jernih, dan cenderung berpikir singkat. Mengambil langkah-langkah yang merusak, diri sendiri dan orang lain. Banyak orang akan mengambil langkah ekstrim dengan mengakhiri hidupnya, tidak kuat membayangkan menanggung stigma dipermalukan tersebut, selama hidupnya... Kalau tidak mengambil langkah se-ekstrim bunuh diri, mungkin akan merespon hal-hal merusak yang lain.

Namun saat saya begitu marah dan hendak mengambil langkah yang merusak demi mempertahankan harga diri, seseuatu membuat saya duduk terdiam.

Bayangan bagaimana sang Kristus dipermalukan, diludahi, diolok-olok, dan padanya ditumpahkan segala hal yang jahat dari semua orang yang berada disekitarnya. Ia dipukuli, dibunuh dengan perlahan. Bukan hanya hatinya yang hancur, tapi tubuhnya pun ikut hancur...

Namun Sang Kristus tetap diam...

Anda tahu apa yang akan terjadi, bila dia menjadi marah dan menunjukan siapa dia yang sebenarnya?

Karya penebusan tidak akan pernah terjadi, dan rencana besarNya untuk menyelamatkan kita tidak akan terwujud... Saya dan saudara tidak akan selamat dari alam maut bila itu yang terjadi.

Jadi saya akan memilih untuk diam, seperti yang Kristus lakukan,
menanggung penghinaan yang tidak pantas ini...

Demi tujuan yang lebih besar... kemuliaan yang lebih besar...

Ada kemuliaan dibalik setiap penghinaan...

Minggu, Februari 21

Spongebob & Squidward

Pernah menonton Spongebob the Movie? Dimana dikisahkan Mr Crabs membuka cabang dari Crabby Patty, dan Spongebob sudah merasa sangat yakin bahwa dialah yang akan menjadi manager dari cabang Krabby Patty 2. Keyakinannya itu beralasan, karena setiap bulan Spongebob selalu menjadi pegawai terbaik, motivasi dan dedikasinya penuh terhadap restoran tersebut.

Namun saat hari grand opening, Mr Crabs mengumumkan bahwa yang menjadi manager adalah Squidward sang gurita. Padahal Squidward adalah seorang yang apatis dan Yes Bos saja.

Saya tersenyum kalau mengingat seri itu, namun hari-hari ini saya merasa kalau saya seperti halnya Spongebob dalam seri diatas (thats why everybody loves Spongebob). Selalu saja ada orang lain seperti Squidward yang tidak capable yang terpilih, dan kita terlewatkan terpaksa harus mengikuti kemauan pemimpin.

Flashback ke masa kecil. Saat remaja, saya begitu menyukai Pramuka. Saya adalah pembaca puisi dan penerjemah sandi terbaik. Namun saat sekolah saya membentuk tim berisi 20 orang untuk mengikuti jambore provinsi, saya tidak terpilih. Guru saya hanya memilih anak-anak yang "kelihatan cakap dan meyakinkan". Alhasil team sekolah kami pulang tidak membawa satupun medali dari belasan medali yang disediakan. Kalau saya ikut, saya percaya, hasilnya akan berbeda.

Saya baru menyadari sekarang, kalau pola ini terus berulang sepanjang kehidupan saya. Saya selalu menjadi Spongebob yang tersisihkan, dan selalu ada orang lain sebagai Squidward yang terpilih. Membawa saya pada sebuah renungan, mengapa mereka tidak memilih kita?


Mengapa kita tidak dipilih?

Saat Samuel berusaha memilih mana orang yang akan diurapinya dari anak-anak Isai, dia juga memakai standar "kelihatannya". Dengan standar itu Daud yang kecil dan terabai pasti tidak terpilih, dan sejarah Irael akan menjadi berbeda. Tapi untung saja Tuhan tidak memakai standar yang sama.

Masalahnya sekarang kita menggantungkan dunia ini pada orang-orang yang memilih dari "kelihatannya" saja.

Untuk itu kita harus berusaha memantaskan diri agar "kelihatannya" cakap dan terpilih.. Masalah lain muncul yaitu saat kita fokus berusaha "kelihatan pantas" kita cenderung menjadi "Tong kosong nyaring bunyinya".

Hanya saja, kita memang tidak memiliki jalan lain dalam masalah ini, satu-satunya jalan adalah kita harus berupaya dengan segala cara memantaskan diri, baik luar maupun isinya. Dan melupakan kesombongan terpendam, membiarkan para pemimpin berusaha menemukan emas yang terpendam dalam diri kita. Mereka tidak akan pernah menemukannya.

Kita memang tidak punya pilihan selain terjun dalam kompetisi "kelihatan pantas" yang sungguh menyakitkan nurani ini. Tapi hanya itulah jalannya, sebuah kompetisi sekaligus pembentukan, yang memiliki mental terbaik, dan yang menunjukan kematangan dan kedewasannyalah yang menang.

Namun sebuah pertanyaan lain mengelitik saya.

Perasaan kita bahwa kita pantas seringkali menjadi bumerang bagi kita.

Bagaimana kalau Tuhan sendiri yang harus memilih?

Apakah IA akan menemukan kita pantas?

Jumat, Februari 5

Hamba Yang Tidak Berguna

Membaca Lukas 17:7-10, membuat kita sadar betapa tingginya standar Kristus terhadap orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan.

Betapa seorang Hamba tidak bisa bermanja-manja pada Tuannya. Bahkan dikatakan dalam kelelahannya setelah melakukan tugasnya, ia masih harus melakukan pekerjaan-pekerjaan ekstra yang diminta Tuannya, saat sang hamba kelelahan dan kelaparan. Setelah semua itu selesai, tuannya tidak boleh mengucapkan terima kasih padanya.

Ini menegur kita yang mengaku sebagai hamba...

Untuk tidak menjadi hamba yang manja, apalagi menuntut tuannya atas apa yang telah kita lakukan.

Banyak orang yang menjadi kecewa, berkata;

"Tuhan aku telah melayanimu, mengapa aku tidak merasakan berkatMu? Mengapa peristiwa buruk ini kau biarkan menimpaku?"

Sebaliknya sebagai hamba kita harus mengatakan;

Aku hanya hamba yang tidak berguna....

Sabtu, Januari 30

Kelemahan Personal Experience

Salah satu hal yang paling saya sesali didunia ini adalah saya kehilangan dua orang murid saya. Saya punya banyak pendengar, tapi saya hanya punya sedikit murid, mereka yang benar-benar dekat dengan kehidupan spiritual sehari-hari, dan intens berkomunikasi dengan saya. Saya pikir mereka amat berbakat, dan mengira mereka akan menjadi hamba Tuhan yang luar biasa.

Sebut saja mereka si A dan si B. Keduanya adalah pelayan Tuhan digereja sejak masa remaja mereka. Ketaatan, kesetiaan, dan komitment mereka tidak diragukan saat itu.

Si A, memberikan seluruh warisan ayahnya kepada gereja setelah ayahnya meninggal, yang mana sangat ditentang keluarganya, tetapi demi menunjukan kecintaannya pada Kristus ia melakukan itu. Pandangan, hikmat dan prinsip hidupnya seringkali membuat saya kagum, seakan-akan semua hikmat itu dia dapatkan fresh from heaven (i never heard of it before).

Si B, memiliki karunia supranaturalis. Ia sering mendapat petunjuk dalam mimpi, dan saat ia melakukan seperti yang dikatakan mimpinya, hal itu tepat benar. Ia sering menyaksikan perjumpaannya dengan Kristus. Ia memperjuangkan sendirian dibangunnya persekutuan doa di kampusnya dari nol, hingga persekutan itu menjadi besar dan menjadi berkat bagi para adik kelasnya dari generasi ke generasi.

Dan anda tahu apa yang terjadi pada mereka berdua hari ini?

Si A, kini menjadi New Age/Atheis yang radikal,
dan Si B kini pindah agama ke kepercayaan seberang, status facebooknya penuh dengan pemujaan terhadap Tuhannya yang baru.
Sungguh ironis....

Apa yang salah?

Mereka memang putus hubungan dengan komunitas orang percaya, dan tenggelam dalam karir pekerjaannya. Tapi saya rasa ada yang lebih dari itu...

Mereka merasa kuat dengan personal experience with God, dan justru hal itu yang membuat mereka hilang arah. Tidak ada yang salah dengan personal experience, tapi saat memprioritaskan hal itu, itu yang membuat kita hilang arah.

Pertama karena personal experience adalah sesuatu yang abstrak, semua terjadi didalam pikiran. Perbedaannya tipis sekali antara suara Tuhan, suara hati, Personal Experience, dan imaginasi. Sedikit sekali orang yang bisa membedakannya.

Kedua, dalam hidup spiritual kita, kita memiliki dua arah. Ada yang membangun hubungan keatas, untuk lebih dekat dengan Tuhan, melalui doa, pujian, penyembahan, dan pengalaman-pengalaman spiritual.

Dan ada yang membangun hubungan kebawah, menuju dasar dan akar iman. Dengan cara menekuni dan mempelajari firman Tuhan melalui pendalaman Alkitab, dan juga referensi buku-buku tambahan, baik yang bersifat rohani ataupun theologis.

Seperti sebuah tiang bendera, saat seseorang terlalu membangun hubungan keatas tanpa menyeimbangkan dengan pertumbuhan kebawah, suatu saat dia akan jatuh karena dasar penahannya tidak kuat. Sama juga kalau orang terlalu membangun kebawah dengan pendalaman, hidupnya akan kosong dengan iman yang kerdil, ia kuat tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Yang terbaik adalah membangun keduanya dengan komposisi yang seimbang, contoh untuk sebuah komposisi tiang yang kuat, kira-kira 1/4 tiang itu masuk kebawah menjadi dasar pijakan dan pegangan.

Jadi bangunlah Personal Experience dengan Tuhan, dengan cara yang benar. Naikan doa pujian dan penyembahanmu, carilah karunia-karunia rohanimu. Tapi jangan lupa, perdalam Firman dengan Alkitabmu, tambahkan sedikit buku-buku rohani dan theologis yang benar.

Perhatikanlah dasar dan pondasimu.
Jangan membangun rumah spiritualmu diatas pondasi pasir.

Rabu, Januari 13

Gereja & "Real Church"


Aku bikin status di Facebook, dengan isi sebagai berikut : 

 

 Temen gw telpon, katanya "Luk, akhirnya gw lepas dari gereja. Sekarang gw bisa fokus ke pelayanan sesungguhnya, yaitu komunitas, lingkungan, dan keluarga gw. Rasanya seperti lahir kembali man...", wow, congratulations bro. Whos next?

 

Hanya dalam beberapa menit dua orang berkomentar dengan semangatnya.

___________________________



Soni Santana
welcome to real church

Iya, ga tau kenapa gw jg ngrasain gitu. Kalo pelayanan ke gereja kok rasanya ga enak di hati. Berasa ga pelayanan, tp ikut apa tradisi gereja and gembala. Apa ada yg salah dng gereja2 di negara kita ya? T_T
Lucky Mamusung
@soni : dasar "home church"....
@enji : ayo apa yang salah.... analisa dong kamu khan penulis.... :)

Enjie Angelina Kusuma
Terlalu bnyk aturan hahaha. Jadwal gw ke gereja aja busyettt banyak :D. Selasa doa malam, Rabu komsel, Jumat latihan musik, Minggu ibadah :D. Kapan gw nginjilin org lain kalo fokus gw 'hrs' ke gereja molo ya :D. Rohani didalam, tp ga bisa gerak diluar, pantesan gereja di Indo ga bisa menangin bnyk org............sedihnya, gw terkurung di gereja karena status sekretaris sekarang T_T. Helep :D :D :D
Soni Santana
enjie : kalau ngga enak di hati berarti hatinya yang salah...
lucky : hahaha... tapi pelayanan di gereja ngga salah juga kok.. kalau ngga ada yang ngelayanin di gereja.. malah tar jemaat biasa kaya gue yang kebingungan....

Soni Santana
enjie : banyak orang terperangkap dalam gereja, karena dia ngga bisa ambil keputusan sesuai visi dari Tuhan, tapi banyak orang yang mengambil keputusan menurut visi Tuhan, tapi dia dianggap sebagai pembelot....
Enjie Angelina Kusuma
Ga sesuai ma hati nurani gw yg terdalam seh om :D. Gw jd ga bisa kemana2 lama sekarang. Bentar2 ada jadwal gereja ini itu. Ya ampun.........ngrasa ga berkembang gw gitu ada didlm gereja? Aneh ya *_*
Lucky Mamusung
@njie : bikin artikel dong, curhat seorang pelayan...
@soni : set, agen ganda nih, home church iya, tradisional church iya  juga...

Enjie Angelina Kusuma
Hahaha, boleh jg idenya. Tp kayaknya nanti lbh bnyk ga enaknya drpd enaknya jd org dlm gereja :D
Soni Santana
lucky : gue bukan agen ganda om... gue agen janda... wakakaka... sekalipun gue pelayanan di luar tembok gereja, tapi gue tetep butuh pengayom dan makanan rohani om.. dan gue juga butuh belajar tunduk pada otoritas... mangkanya gereja tetep diperlukan dong.. terutama untuk melayani kebutuhan orang-orang seperti gue...
Soni Santana
enjie : mangkanya gereja tuh suruh cari jiwa yang terhilang, sekalipun butuh kualitas, gereja juga butuh kuantitas... kalau cuman kualitas aja yang di kejar.. kasian WL merangkap Keyboard, merangkap usher, merangkap kolektan... lama-lama pelayanan Gereja di pegang 1 orang dan jemaatnya 1 orang... motonya yang penting 2,3 orang ngumpul Tuhan hadir...
Enjie Angelina Kusuma
Nah itu dia :p. Gw di gereja rangkap2 pelayanan juga. Ya sekretaris, ya multimedia, ya singer, ya guru sekolah minggu *_*. Tewas kreatifitas gw lama2 hiks
Soni Santana
hahaha... gue ngedenger elu berasa dejavu 15 tahun yang lalu......
Enjie Angelina Kusuma
Bah, diketawain gw hiks hiks......wanna break free hahahahahaha =))
Lucky Mamusung
Master gw bilang, resource gereja terserap 90% di penyelenggaraan kebaktian. Jemaat/pelayan yg telah terkuras tenaga dan dananya, tidak mampu lagi melakukan esensi gereja yaitu Koinonia, Diakonia, dan Marturia.
Soni Santana
lucky : survey itu benar untuk gereja dengan jemaat sedikit, tatpi utk gereja dengan jemaat banyak, survey itu ngga berlaku, tetapi hampir 90% resource gereja dibiasrkan tertidur, karena para leadernya sibuk main gereja-gerejaan dan mereka tidak melibatkan yang lain untuk melakukan esensi yang lain
Enjie Angelina Kusuma
Main gereja2an hahaha. Krn suka gereja2an jd lupa PI ya :p. Gw rasanya udah ga gaul lg dilingkungan gw sejak setahun belakangan main gereja2an jg neh :p

Lucky Mamusung
Gereja besar diferent case, karena udah kegedean, fungsi controlnya juga udah jadi masalah terhadap manusia sebanyak itu. Jadi gak bisa diapa-apain emang jemaatnya, mo ngomong keras dikit ya pindah mereka... 
Enjie Angelina Kusuma
Gereja besar sama aja kok casenya. Pelayannya jg itu2 aja :p, tetep ga banding sama jemaat yg dilayani. Ga ada bedanya sama gereja kecil.
Soni Santana
gue udah alus-alusin pake bahasa gereja jemaat sedikit sama jemaat banyak.. ini malah dipake gereja besar-gereja kecil... wakakakaka.......
Enjie Angelina Kusuma
Gw ngikut diatas gw euy =))
________________________________________


Demikian pendapat mereka, bagaimana pendapatmu?

Selasa, Desember 29

Sense of Crisis


Melihat diberita tentang para pejabat baru mendapatkan fasilitas mobil mewah yang baru, dan mereka hanya cengengesan saja saat ditanya kenapa tidak meneruskan fasilitas mobil sebelumnya, membuat kita prihatin.

Berita ini menjadi kontra dengan berita-berita tragis bagaimana sulitnya hidup rakyatnya, bagaimana orang tua meninggalkan 4 anaknya begitu saja, atau seorang anak berusia 6 tahun mengurusi hidup ibunya yang lumpuh termasuk mencuci, memasak, dan mencari makan.

Dimana "sense of crisis" para pejabat kita?

Bagaimana bisa kita percaya pada mereka, mereka akan memperhatikan rakyat dalam menjalankan tugasnya kalau dalam hal semudah sesepele inipun mereka tidak peduli?

Tapi, tidak usah jauh-jauh melihat para pejabat kita.

Lihat saja para pemimpin gereja kita juga banyak yang berlaku sama...

Banyak yang mempunyai mobil mewah tanpa peduli pada banyak jemaatnya masih berjalan kaki dan kesulitan hidup ekonominya. Kalau ditanya perihal itu, jawaban mereka semua klise, sama... "Khan hamba Tuhan harus diberkati, jadi contoh, bahwa Tuhan baik dan kita diberkati."

Wow jawaban yang mantap...

Membuat kita semua mengambil kesimpulan yang sama, yang saat ini menjadi penyakit kronis gereja : "Berlomba-lomba dalam berkat...."

Berkat menjadi prioritas dan segalanya dalam kehidupan rohani....

Saya merindukan saat Tuhan Yesus memanggil kita,
"Anak manusia tidak punya tempat untuk meletakan kepalanya..."

Sebuah panggilan yang sungguh sejuk dan orisinil...

Jika mereka sungguh pengikut Yesus?
Kenapa mereka tidak memanggil dengan cara yang sama?

Tapi bunyi mereka semua sama,
Yesus telah mati bagi saya supaya saya hidup,
Yesus telah menjadi miskin supaya saya kaya...

Sungguh sebuah bunyi yang absurd dari pengikut Yesus...

Minggu, Desember 27

Perjalanan Tanah Suci

Bed rest total karena typus yang menyerang ini, membuat saya tidak bisa kemana-mana pada Natal ini. Banyak acara penting termasuk pertemuan-pertemuan keluarga tidak dapat dihadiri, sehingga natal yang seharusnya hangat ini terasa begitu dingin tanpa kehangatan keluarga dan kehangatan suasana natal... yang ada hanyalah kehangatan demam...

Tidak dapat yang dilakukan selain menonton televisi, karena tidak sempat membeli dvd untuk stock liburan, keburu sakit menyerang. Dan yang ada ditelevisi hanyalah info-info seputar natal kemeriahan dan kemewahannya.

Bagi saya ironis, Yesus yang memilih dilahirkan dikandang binatang dan dibaringkan dalam sebuah tempat makan hewan. Kini dirayakan oleh pengikutnya dengan menyewa gedung-gedung terbesar dan kemewahan, yang menyedot biaya tentu saja sangat banyak.

Anda tentu tahu kemana artikel ini akan mengarah...
Bukankah dana itu seharusnya digunakan untuk hal-hal yang memberi impact lebih besar bagi bangsa ini atau bagi anak-anak Tuhan dibangsa ini?

Oke, kita bisa beralasan, melakukan yang terbaik buat Tuhan, dengan merayakan sebaik-baiknya.

Hal ini mengingatkan kita pada kisah minyak wangi yang sangat mahal yang ditumpahkan untuk mengurapi kaki Yesus. Murid-muridnya marah melihat pemborosan itu, tetapi Yesus mencegahnya, karena perempuan itu telah melakukan yang terbaik untuk Dia.

Tapi kita harus ingat konteks kisah itu, bahwa itu secara langsung dipersembahkan untuk Tuhan. Kita melihat objeknya. Sementara apa yang gereja lakukan dengan natal ini semata-mata objeknya untuk jemaat. Agar jemaat gathering, penghimpunan kekuatan, dan pemuasan religiusitas kita, terhadap acara dan lambang-lambangnya.

Mendengar berita bahwa para travel yang menyediakan perjalanan ke tanah suci mereguk untung sangat besar di musim seperti ini, karena menjadi puncak permintaan perjalanan, juga membuat saya menggeleng-gelengkan kepala saya.

Ini adalah sebuah bukti, kekristenan telah kehilangan kasih sebagai karunia yang telah diberikan Tuhan. Orang kristen telah menutup mata apa yang terjadi bangsanya, pada sekitarnya, dan memilih berjalan-jalan berwisata rohani dengan biaya yang sangat mahal, demi untuk memuaskan ke-agamawian-nya. Sebuah nafsu yang sama dengan rajin kegereja demi sebuah pembenaran.

Perjalanan rohani sesungguhnya, adalah saat kita berada disini, dihati kita, melakukan firman Tuhan ditengah-tengah lingkungan orang yang percaya dan yang tidak percaya. Meresapi dan karakter, keinginan, dan perjalanan Kristus sendiri ditengah-tengah bangsanya sendiri...

Itulah perjalanan rohani yang sesungguhnya.....

Jumat, Oktober 30

Kelinci Pembunuh Ular

Sepasang kelinci telah ditangkap karena serangkaian pembunuhan terhadap ular di dekat Cairns.

Selama tiga minggu Armando Del Manso berpikir anjingnya yang bertanggung jawab atas banyaknya ular yang mati dengan bekas gigitan diatas rumput ditanahnya setiap pagi.

Tapi ternyata ia salah, itu adalah kelinci yang mengamuk membunuh ular-ular itu.

Dia menyaksikan langsung bagaimana 2 ekor kelinci bekeja sama menyerang seekor ular King Bown.

"Ular itu berdii mendongakkan kepalanya diudara siap menyerang, namun dua ekor kelinci itu mengitarinya, dan mengamuk mengigitinya, dan ular itu mati dalam dua menit." kata Del Manso.

"Saya kaget sekali melihat itu, ini benar-benar luar biasa. Siapa yang akan percaya cerita saya, mereka akan pikir saya gila. Maka saya merekam adegan lain saat seekor kelinci mengejar dan berusaha membunuh ular lain yang lebih kecil." ujar Del Manso.

Ahli Wildlife Paulus O'Callaghan dari Cairns Wildlife Safari mengatakan itu adalah pertama kalinya ia mendengar kelinci menyerang ular.



Kelinci itu mengingatkan aku pada Daud dan Goliath.
Secara takdir hal itu tidak bisa dilakukan dan berbahaya, kelinci itu sedang melawan hukum alam. Tapi kelinci itu percaya dan yakin ia bisa melakukannya...

Sekarang apa ular dalam hidupmu yang berbahaya dan siap memakanmu?
Jadilah sang kelinci pemberani, walaupun kelinci jika ia pikir ia bisa menang, maka iapun akan menang!

Selasa, Oktober 20

Berikanlah Lebih


(luki.co.nr)

Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.  Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Matius 5 : 40-41)  ----

Berikanlah lebih dari yang orang harapkan, dan kau akan mendapatkan lebih dari yang kau harapkan. Daripada engkau terus terobsesi betapa kecil yang kehidupan berikan padamu, fokuslah pada besarnya yang bisa kau lakukan dan selesaikan pada satu hal.

Jika kau ingin "cheat" pada kehidupan, maka hidup juga akan curang padamu. Jika engkau bertujuan ingin mendapatkan sesuatu tanpa mengeluarkan apa-apa, engkau akan berakhir pada memiliki hal-hal yang tidak bernilai.

Untuk itu carilah cara untuk memberikan lebih...

Pencapaian bukanlah bagaiman cara mendapatkan. Pencapaian datang dari menciptakan mengerjakan, dan memberikan. Pencapaian datang dari bagaimana engkau memberikan perbedaan. Jika engkau memiliki kesempatan untuk memberi perbedaan, maka berikanlah dengan murah hati.

Setiap orang sukses memiliki kehusan yang luar-biasa untuk memberikan nilai tambah yang lebih bagi hidup orang lain. Untuk itu milikilah sikap ini, teruslah cari cara agar engkau dapat memberikan nilai lebih bagi orang lain, walau seberapa tidak pedulinya orang lain akan nilai lebih yang berikan, tapi terus berikan lebih, dan engkau akan menemukan sukacita sejati dan keberhasilan sejati yang bertahan jauh lebih lama....